Blazer Hitam itu

Ketika aku sedang duduk di tembok teras depan kelas,  seorang ibu menghampiriku. Dia adalah orang tua muridku yang bernama Bahruji.
“Bu…  Maaf ya,  saya mau nawarin baju sama Ibu”
“Baju apa?”
“Blazer Bu…  Baju buat kerja. Pasti cocok di Ibu. Warnanya hitam. Saya lihat Ibu suka pakai blazer.”
“Ya…  Mana bajunya?, coba saya lihat”
“Tapi ngga dibawa Bu…  Ada di rumah. Mau nawarin Ibu saya malu. Takut ngga mau. Ibu pasti pantas pakai baju itu.” 
“Hehe… Memang jualan baju?”
“Ngga Bu…  Ibu kenal Nali kan? Nali kakaknya Bahruji, dulu murid Ibu. Dia anak saya yang pertama.” Dia mulai bercerita. 
“Oh ya…  Nali,  saya tahu. Kenapa? ”
“sekarang dia kerja di Jakarta. Minggu kemarin dia pulang membelikan saya baju itu. Masa sih,  saya pake baju model begitu. Itu kan baju buat orang kerja. Saya kan ngga kerja Bu. Masa saya di rumah nyuci dan masak pake baju begitu?” katanya sambil tertawa. Aku pun tersenyum. 
“Ngga apa-apa Bu…  Sekali-kali bergaya, nyuci dan masak pake blazer. Memang ngga boleh?” kataku bercanda. Dia pun tertawa. 
“si Ibu bisa saja, beli ya Bu…  Beli saja sama Ibu, kebetulan saya juga perlu uang.”katanya sambil merajuk. 
“Ya sudah,  besok bawa ke sekolah,  saya lihat.”
“Bener ya Bu…  Besok saya bawa ke sekolah” Dia  memohon dengan wajah penuh harap. 
“Iya bawa saja ke sini” kataku lagi meyakinkannya. 
“Ya sudah,  trimakasih Bu,  saya mau pulang” dengan senangnya dia menyalamiku dan berlalu pergi. 
Esok harinya Ibu si Bahruji datang kembali menemuiku di kantor. 
“Bu…  Ini bajunya,saya bawa. Coba deh ibu cobain,  pasti pas dan cocok di Ibu.”  dia memberikan kantong plastik hitam bungkusan baju itu padaku.
Kantong plastik itu ku buka dan ku keluarkan baju di dalamnya. Sebuah blazer berwarna hitam. Kulihat baju itu memang bagus,  sepertinya cocok dan pas di badanku. Aku pun suka dengan modelnya. Kebetulan juga aku belum memiliki blazer berwarna hitam. Setelah kulihat-lihat,  langsung kucoba dengan memakainya. Ternyata benar saja,  baju itu pas sekali dengan ukuran badanku. Lalu aku mencoba bercermin. Dengan blazer hitam itu, aku terlihat lebih elegan. Enak sekali dipakainya dan pas. Modelnya pun sederhana,  sesuai dengan seleraku. 
“Tuh kan…  Pas. Baju itu cocok sekali dipakai Ibu,  pantas” katanya memujiku
“Ya sudah… Saya beli,  kebetulan saya belum punya blazer warna hitam.” kataku sambil membuka baju itu dan melipatnya kembali. 
“Berapa baju itu mau dijual?”

“Seratus lima puluh saja Bu…  Ngga apa-apa buat Ibu ini”
“Sudah bilang Nali,  kalau baju ini dijual ke Bu Nia?”
“Ya Bu…  Nanti kalau pulang saya bilang si Nali.” katanya dengan senang. 
Aku suka sekali dengan blazer hitam itu. Blazer hitam itu pernah kupakai ke acara Konferensi Guru Bloger.
Kurang lebih sebulan yang lalu Ibunya Bahruji menjual baju itu padaku. Sejak dia menjual baju itu,  aku tak pernah lagi melihatnya di sekolah. Tadi pagi ketika aku sedang duduk di tembok teras depan kelas,  tiba-tiba Halimah muridku dulu, menghampiriku. Halimah adalah kakaknya Bahruji dan adiknya Nali. 
“Bu…  Ibu tahu Nali kan?, Kakak Halimah”
“Iya…  Kenapa?”
“Nali meninggal Bu…  Ia kecelakaan di mobil losbak yang ditumpanginya. Dia jatuh terhempas ke jalan. Kepalanya pecah. Dia sempat koma di rumah sakit seminggu…” Halimah bercerita sambil berlinang air mata. 
“Yaa Allah… Inalillahi wainailahi rojiun” aku kaget dan termenung, sambil kulihat blazer hitam yang kukenakan.

Iklan

Kenangan itu

“Tuh,  mobilnya sudah ada”  Ani berkata sambil tangannya menunjuk halaman masjid. Ani, Indah, dan aku cepat-cepat beranjak, membayar baso dan mie ayam yang telah kami makan. Kami pun segera menuju mobil yang terparkir di halaman mesjid. 
Bertiga kami masuk mobil. Indah duduk di depan di sampingnya. Aku dan Ani duduk di belakang. Setelah kami duduk dan pintu mobil ditutup,   dia menjalankan mobilnya ke luar masjid menuju arah pulang. Diam seribu basa,  tak menyapa. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
“Jen…  Maaf ya,  Nia bawa Indah nginep semalam”

 

“Lho kok… ke pasar ,Yah? salah arah kita” kata Indah baru sadar kalau suaminya salah arah menuju pulang. 
“Mau belanja sayuran dulu kali,  Dah” kataku sambil tersenyum. Entahlah sepertinya aku dapat merasakan kalau dia sedang galau. 
“Aneh… biasanya kalau diajak ke pasar ngga pernah mau ngantar. Ini malah ke pasar. Kalau Indah belanja ke pasar saja suka marah minta cepat-cepat.” Indah pun curhat. Aku dan Ani tertawa. Dia tetap saja diam. 
Tiba-tiba suara lagu Starla terdengar sayup-sayup dari musik yang dia nyalahkan di dalam mobil. 

9 Kunci Hidup Bahagia

Jangan menunggu bahagia baru bersyukur, tapi bersyukurlah maka hidupmu akan bahagia. Bahagia itu ada di hati, jadi buatlah hati kita bahagia. Pikirkanlah untuk mencari kebahagiaan, setidaknya anda telah menghilangkan satu beban. Dan lakukanlah hal di bawah ini :
1. Tidak membenci
2. Tidak mengeluh
3. Berprasangka baik
4. Merendah diri
5. Mudah memaafkan
6. Hindari permusuhan
7. Bersedekah
8. Selalu tersenyum
9. Tidak dengki dan iri

Bahagia itu sederhana, dengan membahagiakan orang lain maka hidupmu pun akan bahagia. Jika anda menganggap bahagia itu mahal, anda tidak akan pernah bahagia. Karena hidup yang kau keluhkan bisa jadi adalah hidup yang diinginkan orang lain. Lihat apa yang ada pada diri kita, cobalah sesuatu yang positif. Ketika kau mencoba sesuatu dan berhasil, bahagia pasti kau dapat.

So… Selamat berbahagia.

Siapakah Orang Sukses itu? 

Sudah menjadi kegiatan rutin di sekolahku, sebelum masuk kelas semua anak berbaris di lapangan dari kelas 1 sampai kelas 6. Kami selalu mengadakan apel pagi, dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu wajib lainnya. Mendidik anak dengan membiasakan disiplin. 

Suatu hari ketika apel sedang dilaksanakan, seorang temanku memberikan amanat dan wejangan kepada anak-anak untuk selalu giat belajar agar kelak menjadi orang sukses dan  apa yang dicita-citakan akan tercapai. Aku ingat ia menyebut beberapa profesi sebagai cita-cita anak. Dokter, guru, pilot, polisi, ABRI sampai tukang beca. Ia berkata bahwa jangan sampai menjadi tukang beca seperti orang tuanya. 

Di lingkungan desa sekolahku memang masih banyak yang orang tuanya bekerja sebagai penarik beca. 

Seringkali kita sebagai guru mengatakan kepada anak-anak bahwa orang sukses itu adalah orang yang telah berhasil meraih cita-citanya menjadi seorang dokter, insinyur, pilot, guru, polisi, menteri, bahkan presiden

Menjadi orang terhormat dengan memiliki jabatan itulah orang sukses. Seolah-olah orang yang memiliki pekerjaan selain itu bukanlah orang sukses. Sungguh sesuatu kekeliruan yang harus kita sadari. 

Kita lupa, bahwa tidak ada pekerjaan yang hina, selain mencuri dan meminta-minta. Jangan tertawakan anak murid kita jika ia bercita-cita menjadi tukang beca. Tukang becak yang pekerja keras dan jujur jauh lebih mulia dari pada pejabat yang mencuri uang rakyat. Tukang cuci jauh lebih mulia dari pada mereka yang berdasi dan korupsi. 

Kita lupa menanamkan kepada anak bahwa orang sukses adalah orang yang berakhlak mulia. Orang sukses adalah orang yang berguna bagi sesama. Yang takut akan norma dan aturan agama. Aku lebih bangga dengan muridku yang rajin beribadah, sopan, pekerja keras, jujur, dan peduli sesama. Dari pada ia yang berhasil menjadi seorang terpelajar, pejabat tapi berakhlak bejad. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu dan mengukur sesuatu dengan uang semata. 

Enjoy Your Life

Sore hari aku dibonceng anakku yang ke dua,  minta dianter ke mall dengan mengendarai motor. Ketika di jalan buka hp dan ingin menghubungi Kepala Sekolah, ternyata kuotaku habis.

“De…  Kuota ibu habis,cari dulu konter ya”
“Iya, dilangganan Dede aja Bu”

Tibalah kami dikonter pulsa.

“Bu…  Beli kuota M3nya Bu”

“Oh siAde… Yang mana?” Kata si Ibu penjaga konter sambil melihat kepadaku, yang sedang melihat-lihat daftar kuota. 

“Ini mamanya?”

“Iya” jawab anakku

“Masih muda ,ini anak ke berapa Bu?” kata si Ibu konter lagi sambil melihat anakku. 

“Kedua” jawabku dengan hidung serasa mengembung dan ingin sekali melihat kaca .

Sebenarnya aku sudah tua. Kalau terlihat muda, itu mungkin

 karena aku tak pernah menjadikan masalah sebagai beban hidup. Kujalani hidupku dengan santai dan selalu bersyukur dengan kondisi apa pun. 

Bendung Katulampa

Tahukah anda Bendung Katulampa ?
Bendung Katulampa adalah bangunan yang terdapat di Kelurahan Katulampa, Kota Bogor, Jawa Barat. Bangunan ini di bangun pada tahun 1911 dengan tujuan sebagai peringatan dini atas air yang sedang mengalir ke Jakarta serta sarana irigasi lahan seluas 5.000 hektare yang terdapat pada sisi kanan dan kiri bendung.

Bendung Katulampa adalah peninggalan pemerintah kolonial Belanda. Bendungan ini mulai dioperasikan tahun 1911, tapi pembangunannya dimulai pada 1889.

Peristiwa besar yang melatar belakangi pembuatan Bendung Katulampa ini, yakni, banjir besar yang melanda Jakarta pada 1872. Banjir saat itu dikabarkan membuat daerah elite Harmoni ikut terendam air luapan Sungai Ciliwung.

Bangunan ini pun bertujuan sebagai peringatan dini atas air yang sedang mengalir ke Jakarta serta sarana irigasi lahan seluas 5.000 hektare yang terdapat pada sisi kanan dan kiri bendung.

Petugas pemantau selalu mencatat perkembangan ketinggian air, debit air, dan curah hujan setiap jam selama 24 jam, dari pukul 07.00 sampai jam yang sampai keesokan harinya. Semua data harian dimasukkan ke buku laporan bulanan.

Andi Sudirman,  beliau adalah temanku yang bertugas di Dinas Sumber daya Air, provinsi Jawa Barat, UPTD Psda Ciliwung Cisadane. Di Bendung Katulampa beliau sebagai kordinator Ciliwung.
Beliaulah yang bertugas memonitor Ciliwung dari hulu sampai hilir

Bangunan yang melintang sepanjang 74 meter ini adalah karya Ir Hendrik van Breen, insinyur sipil yang ahli dalam bidang pengairan dan kesehatan lingkungan. Hendrik adalah guru besar Teknik Sipil Bidang Bangunan Air Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung. Pembangunan 

bendungan ini menghabiskan biaya 80 ribu gulden.

Bendung Katulampa diresmikan penggunaannya pada 11 Oktober 1912 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Alexander Willem Frederik Idenburg, didampingi para pejabat penting masa itu. Peresmian bendungan ini dimeriahkan pula dengan gamelan dan tari-tarian, serta upacara selamatan dengan kepala kerbau.

Tahun 2004, untuk pertama kalinya Bendung Katulampa direnovasi. Renovasi Katulampa menggunakan dana Anggaran Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Barat sebesar Rp 300 juta.

Bendungan ini pun dilengkapi sarana pendukung, seperti pengontrol dasar sungai atau consolidation dam, jembatan Katulampa, dan pembuatan alat ukur saluran induk (untuk mencatat curah hujan). Pemerintah juga menata lingkungan di sekitar bendungan.

Nama Bendung Katulampa naik daun ketika Jakarta dikepung banjir pada 2001. Warga Jakarta mengira Bendung Katulampa berfungsi sebagai bendungan yang bisa menampung banyak air. Dengan demikian, ketika ada isu Bendung Katulampa jebol, warga Jakarta sangat ketakutan akan adanya banjir kiriman.

Fungsi Bendung Katulampa adalah sebagai pusat pemantau sekaligus untuk irigasi di Bogor. Air dari hulu sungai di daerah Telaga Warna, Puncak, Cisarua, dan anak Sungai Ciliwung mengalir melewati Bendung Katulampa.

Kini daerah perkampungan sekitar Bendung Katulampa telah menjadi desa warna-warni yang indah. Bahkan telah menjadi objek wisata dan berbagai kuliner pun ada. Di Bendung Katulampa kita dapat berenang dan “Ngalun” dengan menggunakan ban. Kini dengan adanya kampung warna warni, dan objek wisata di bendung katulampa, Perekonomian masyarakat sekitar pun dapat meningkat. 

Jika anda ingin mencoba “Ngalun”? Berkunjunglah ke Bendung Katulampa. Dijamin ketagihan.

Sumber:
Wikipedia

travel.tempo.co,Jakarta
Andi Sudirman